Melihat Bunker Anti Nuklir dan Bom, Bekas Perang Dunia Jerman

Desain bunker memiliki kedalaman 40-meter kebawah tanah dengan kemampuan “penyerap getaran” dengan bantuan kerikil. kulit luarnya bangunan ini dibangun dengan tebal kulit terluar 3 meter yang diperkuat beton padat setiap 15cm dengan tebal 2,5 cm batang tungsten. Akhirnya seluruh struktur itu dilapisi dengan bata, ditutupi dengan jaring dan direndam untuk membentuk casing luar.

Melihat Bunker Anti Nuklir dan Bom, Bekas Perang Dunia Jerman

Bangunannya memang terlihat tak seberapa besarbesare. Bahkan, luasnya tak lebih besar daripada pos kamling yang biasa dibangun di Indonesia. Bangunan itu seperti tidak terawat dengan sulur-sulur tanaman merambat di dinding-dindingnya yang berwarna tidak cerah. Tapi, jangan salah sangka. Tampilan luar bangunan memang sangat mengecoh. Sebab, rumah kecil berpintu besi itu merupakan jalan masuk menuju salah satu bungker utama di Berlin.

Dasar bungker sangat gelap, arah jalan hanya mengandalkan sejumlah anak panah bermaterial fosfor yang membuatnya bercahaya di kegelapan. Ruangan bawah tanah terdiri atas banyak kamar. Mulai dapur, kamar tidu, dan tempat berkumpul. Sebelum memasuki ruangan-ruangan tersebut, warga yang ingin masuk dan melihat harus melewati areal sterilisasi.

Melihat Bunker Anti Nuklir dan Bom, Bekas Perang Dunia Jerman

Ukuran ruang sterilisasi mencapai setengah lapangan voli, uangan itu memiliki dua pintu besi.. Satu pintu merupakan pintu masuk menuju ruangan lainnya di dalam bungker, pintu lainnya adalah pintu dari luar bungker. Pintu dibikin dari besi berat untuk menjaga agar udara dari luar yang dipercaya membawa radiasi tidak ikut masuk ke dalam bungker.

Di pojok ruangan terdapat shower tempat warga membersihkan tubuh dari bakteri yang bisa membahayakan. Shower tersebut dibikin tanpa sekat. Alhasil, siapa pun yang mandi telanjang bakal terlihat pengungsi lainnya. Selain untuk mandi, ruangan itu digunakan untuk membersihkan warga dari radiasi nuklir. Semua pakaian dan barang yang menempel di tubuh harus dibuang dan diganti pakaian khusus.

Melihat Bunker Anti Nuklir dan Bom, Bekas Perang Dunia Jerman

Dari ruang sterilisasi, warga bisa menuju kamar dapur atau kamar tidur melalui sejumlah lorong. Setiap lorong bungker dibikin berkelok-kelok. Mirip labirin berbahan beton. "Tujuannya, bila ada roket yang diluncurkan, tidak langsung hancur dalam sekali tembak karena harus membentur banyak tembok".

Sebagian besar bungker dan shelter di Berlin ini dibangun pada 1977. Saat itu, Jerman terpecah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur karena Perang Dunia II. Kedua wilayah dibatasi tembok besar yang memisahkan dua kota itu. Jerman Timur yang dikuasai komunisme Uni Soviet melarang warganya hijrah ke Jerman Barat yang dikuasai negara-negara Barat pimpinan AS.

Melihat Bunker Anti Nuklir dan Bom, Bekas Perang Dunia Jerman

Dalam masa perang dingin itu, kedua kubu saling curiga bahwa satu kubu hendak menghancurkan kubu lain. AS meyakini bahwa Uni Soviet memiliki bom nuklir yang disimpan di Rusia. Jika tiba-tiba AS menembakkan roket ke Moskow, bom nuklir bakal meluluhlantakkan Berlin. Berlin menjadi tempat yang strategis karena hampir semua tentara kedua kubu bersiaga di tempat itu.

Seluruh tempat buker perlindungan itu hanya mampu menampung sebanyak 3.339 orang. Sangat sedikit dibanding populasi warga Berlin yang mencapai 3 juta jiwa. Kini di Berlin hanya tersisa 23 bungker. Sisanya kebanyakan digusur pemerintah kota datau ditimpa bangunan baru di atasnya.

Ada juga salah satu perusahaan yang memakai bunker anti Nuklir adalah pendiri WikiLeaks, WikiLeaks menggunakan sejumlah server sebagai penunjang kapasitas bagi ratusan ribu dokumen yang diunggah secara bertahap sejak 28 November 2010. Salah satunya adalah Bahnhof, perusahaan server dan hosting internet di Swedia. Lokasi server Bahnhof tergolong unik, yaitu di suatu bunker anti-nuklir warisan Perang Dunia II.

Melihat Bunker Anti Nuklir dan Bom, Bekas Perang Dunia Jerman