5 Gunung Berapi Aktif yang Berada di Tata Surya Kita

Ternyata keberadaan gunung berapi bukan hanya terdapat di Bumi loh, namun juga ada di luar Bumi. Bahkan ada yang masih aktif hingga sekarang ini. Beberapa di antaranya memunculkan fenomena yang amat unik dan mengundang penasaran untuk diselidiki. Dalam hal ini, pengetahuan astronomi bertemu dengan geologi di butuhkan dalam penelitian ini.

Jika gunung toba yang telah meletus 74000 tahun silamgvmh atau gunung yellowstone di AS 600 tahun lalu silam di klaim sebagai gunung dengan letusan berkekuatan dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah di bumi kita, ternyata eh ternyata gunung tersebut tak ada apa apanya dibandingkan dengan letusan gunung-gunung berapi di planet tetangga kita ini wow. Tanpa basa basi lagi mari kita simak gunung gunung berapinyadi bawah ini.

1. GUNUNG BERAPI DI VENUS

5 Gunung Berapi Aktif yang Berada di Tata Surya Kita

Venus, planet yang punya banyak kemiripan dengan bumi, di mana temperatur permukaannya berada di sekitar 480 derajat celsius, tampaknya lebih mengerikan dibanding yang diketahui sebelumnya. Dari pengamatan terbaru yang dilakukan satelit ruang angkasa European, terhadap planet itu, terungkap bahwa Venus dipenuhi oleh gunung berapi aktif.

Sebagai gambaran betapa dahsyatnya letusan besar gunung berapi Venus, mari kita bandingkan dengan letusan sejenis di Bumi. Letusan terdahsyat di Bumi adalah banjir lava basalt Siberia pada 250 juta tahun silam, yang memuntahkan maksimum 4 juta kilometer kubik magma.  Namun untuk letusan gunung berapi venus volume banjir lava basaltik Venus setidaknya mencapai 40 juta kilometer kubik. 

Sebagai akibatnya, banjir lava gunung basaltik Venus dapat merubah permukaan Venus secara amat dramatis. 80 % wajah venus merupakan daratan lava dengan 72 % diantaranya dihasilkan oleh episode banjir lava basaltik Venus. Banjir lava tersebut juga sekaligus membentuk gunung-gunung berapi raksasa yang bertipe gunung berapi perisai (shield). Di Bumi jenis gunung berapi perisai ini hanya dijumpai di sudut-sudut tertentu seperti misalnya Kepulauan Hawaii (AS).

2. GUNUNG BERAPI DI MARS

5 Gunung Berapi Aktif yang Berada di Tata Surya Kita

Mars punya masa lalu yang mengerikan. Planet keempat dalam sistem tata surya itu kerap diguncang letusan gunung api super. Erupsi gunung-gunung api tersebut sangat masif, dengan memuntahkan sedikitnya satu juta meter kubik material vulkanis dan lelehan bebatuan. Erupsi-erupsi itu diperkirakan mengubah karakter permukaan Planet Merah menjadi seperti yang sekarang.

Para peneliti mengambil data dan gambar dari wahana Mars Express and Global Surveyor yang memantau situasi di sebuah wilayah di sisi utara Mars, yang dinamakan Arabia Terra. Di wilayah ini terlihat jejak letusan-letusan dahsyat dan reruntuhan bebatuan. Letusan gunung api super bisa jadi memperjelas asumsi tentang apa yang terjadi di permukaan Mars.

Para peneliti sebelumnya menduga material dan permukaan Mars terbentuk dari letusan gunung api super, meski hingga saat ini keberadaannya belum bisa dikenali. Eden Patera, cekungan selebar 85 kilometer dengan kedalaman 1,8 kilometer, diduga merupakan bekas letusan gunung super berapi tersebut.

Mars sendiri diketahui punya rangkaian gunung api yang usianya lebih muda dan mirip dengan gunung api yang ada di Hawaii. Olympus Mon adalah gunung api terbesar yang aktif di Mars, dan ukurannya 100 kali lipat gunung api Mauna Loa di Hawaii.

3. GUNUNG BERAPI DI IO

5 Gunung Berapi Aktif yang Berada di Tata Surya Kita

Amukan gunung berapi seukuran Letusan Krakatau 1883 tentu menggetarkan dan menakutkan segenap manusia. Termasuk di masa kini. Nah bagaimana jika kita berhadapan dengan tak hanya satu, melainkan tiga letusan yang skala kedahsyatannya menyamai atau bahkan malah melebihi Letusan Krakatau 1883?

Ini bukan hanya kabar burung. Trio letusan mirip Krakatau itu memang benar-benar terjadi. Namun jangan buru-buru cemas dan memacu adrenalin anda. Trio letusan tersebut mengambil lokasi yang sangat jauh dari Bumi, yakni pada sebuah benda langit lain yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dibanding Bulan. Trio letusan itu terjadi di Io yang adalah salah satu satelit alamiah dari planet Jupiter.

Demikian dahsyat ketiga letusan itu sehingga kilatan cahayanya dapat disaksikan dari Bumi, meski hanya dapat disaksikan lewat fasilitas teleskop tercanggih. Adalah tiga teleskop berpangkalan di puncak Gunung Mauna Kea, Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat), yang merekam ketiga letusan tersebut. Ketiganya adalah teleskop Gemini North, Keck II dan IRTF (Infra Red Telecope Facility) NASA. Ketiga letusan terekam dalam rentang waktu antara 15 dan 29 Agustus 2013, saat Io berjarak 865 juta kilometer dari Bumi.

Dua letusan pertama terdeteksi oleh teleskop Keck II (diameter cermin 10 meter) saat diarahkan ke Io pada 15 Agustus 2013 pukul 22:30 WIB. Dan letusan terakhir terdeteksi dua minggu kemudian, yakni pada 29 Agustus 2013, lewat teleskop Gemini North dan IRTF NASA. Letusan ini terjadi di lokasi yang tak dikenal dan untuk sementara diberi kode sebagai 201308C.

Observasi lanjutan menunjukkan bahwa ketiganya merupakan erupsi eksplosif gunung berapi di Io yang khas. Letusan Rarog Patera mengeluarkan lava sepanas hingga sekitar 750 derajat Celcius. Pada puncak letusannya ia melepaskan daya hingga 8 terawatt (8 juta megawatt). Lava lantas membanjir menutupi area seluas hingga 120 kilometer persegi disekeliling lubang letusan.

Analisis lebih lanjut memperlihatkan trio letusan ini merupakan letusan besar karena memuntahkan magma dalam jumlah sangat banyak. Jumlah magma yang disemburkan letusan Rarog Patera dan Heno Patera berkisar antara 50.000 hingga 100.000 meter kubik per detik. Sebaliknya berapa magma yang dikeluarkan letusan 201308C belum jelas, namun dapat diduga jauh lebih besar ketimbang Rarog dan Heno Patera.

Bandingkan dengan Letusan Krakatau 1883 di Bumi, yang pada puncak letusannya menghamburkan magma sebanyak ‘hanya’ 20.400 meter kubik per detik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kecepatan pengeluaran magma Rarog Patera dan Heno Patera adalah antara 2 hingga 4 kali lipat lebih tinggi ketimbang Krakatau.


4. GUNUNG BERAPI ES DI TITAN

5 Gunung Berapi Aktif yang Berada di Tata Surya Kita

Cassini, pesawat ruang angkasa milik NASA, menemukan gunung berapi berselimut es di Titan. Temuan itu tampak dari hasil pemetaan tiga dimensi di Sotra Facula, wilayah di Titan yang merupakan bulan terbesar planet Saturnus. Tampak dua puncak gunung dengan ketinggian sekitar 3.000 kaki. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan berdebat apakah gunung berapi es yang biasa disebut cryovolcanoes itu memang benar ada di bulan yang tertutup es.

Kini, dengan informasi terbaru dan peta permukaan bulan, memungkinkan ilmuwan membuat analisis yang lebih baik tentang gunung berapi dan letusannya, yang mirip teknologi di Bumi, pada sistem tata surya. Para peneliti yakin aktivitas geologi di bawah permukaan gunung itu menghangatkan lingkungan sekitar yang dingin. Bahkan mungkin melelehkan bagian interior satelit dan mengirimkan es cair atau bahan lain melalui suatu lubang ke permukaan.

Titan adalah salah satu dari beberapa bulan dalam tata surya yang diselimuti gas nitrogen dan metana yang cukup tebal. Dari mana sumber metana memang masih misteri. Namun keberadaan gunung berapi dapat membantu menjelaskan pertanyaan ini.

5. GUNUNG API ES DI TRITON



Triton adalah satelit terbesar Neptunus yang ditemukan oleh astronom Inggris William Lassell pada 10 Oktober 1846. Satelit ini sedikit lebih kecil dari bulan, diameternya sekitar 2.700 kilometer, dan merupakan satelit terbesar ketujuh di sistem tata surya. Waktu revolusi Triton mengelilingi Neptunus adalah 5 hari 20 jam.

Triton merupakan satelit yang sangat tidak biasa. Kebanyakan satelit berevolusi searah dengan arah rotasi planetnya. Tapi Triton mengorbit Neptunus dari arah yang berlawanan. Beberapa ilmuwan berpikir bahwa orbit Triton berbeda karena satelit ini dahulu merupakan planet yang terpisah di sebelum ditangkap oleh gravitasi Neptunus.

Diperkirakan Triton berasal dari sebuah wilayah di antariksa yang disebut Kuiper Belt (Sabuk Kuiper) Salah satu ciri khas Triton yang tidak biasa adalah adanya gunung api es di permukaannya. Erupsi gunung ini dapat memuntahkan material sejauh 8 kilometer ke ruang angkasa. Material tersebut adalah nitrogen beku, partikel debu, dan material lain dari interior Triton yang cukup panas.

Untuk menjelaskan panas ini, para ilmuwan menyebutkan fenomena yang disebut gesekan pasang surut. Gesekan pasang surut terjadi ketika terjadi perubahan bentuk selama interaksi gravitasi. Lebih tepatnya, gesekan pasang surut adalah resistensi terhadap perubahan bentuk. Tarikan gravitasi Neptunus membentang hingga Triton. Dan derajat bentangannya selalu berubah karena orbit Triton terhadap Neptunus sedikit elips.

Bentangan ini meningkat ketika Triton mendekati Neptunus, dan menurun ketika Triton menjauh. Resistensi gesekan terhadap perubahan derajat bentangan inilah yang memanaskan interior Triton. Meskipun interior Triton cukup panas, namun permukaannya sangat dingin. Suhunya mencapai -235 °C. Permukaan Triton bahkan mungkin lebih dingin dari permukaan Pluto.

Ngeri betul gunung-gunungnya. Not recommend deh buat kalian yang ingin mendaki kesana. Jangan kan mendaki gunung ini, dibawah kaki gunung nya aja mungkin kita udah tewas duluan.