Kisah Topeng Raja Hantu, Topeng Buta Suku Dayak Kalimantan

Topeng di berbagai berbagai daerah biasanya memiliki kegunaan masing-masing dari ritual keagamaan, adat setempat maupun ritual besar lainnya. Sama seperti halnya Topeng Buta dalam masyarakat Dayak Kalimantan, mereka menggunakan topeng ini dalam acara perayaan besar, seperti pernikahan maupun sunatan.

Kisah Topeng Raja Hantu, Topeng Buta Suku Dayak Kalimantan

Dalam kisah suku Dayak Kendayan Kalimantan, "Buta" merupakan raja hantu yang tinggal di dalam goa dan paling ditakuti oleh manusia. Jadi, Topeng Buta adalah topeng yang menyerupai wajah raja hantu.

Ciri dari topeng ini adalah rahang yang berbentuk segi empat yang menyerupai rahang babi, yang bisa di naik turunkan atau mengangga dan mengatup. sementara pemakai topeng ini seluruh tubuhnya ditutupi oleh dedaunan sesuai adat Dayak.

Karakter bertopeng buta biasanya meminta hadiah kepada penyelenggara pesta. Hadiah tersebut berupa 2 bungkus nasi, 2 bungkus lauk pauk,  1 ekor ayam hidup seberat 0,5 kilogram dan makanan lainnya yang ada dalam pesta 1 bungkus besar. Jika penyelenggara pesta tidak memberi, menurut kepercayaan Dayak kemiskinan dan kemalangan akan menipanya sepanjang hidup.

Prosesi Topeng Buta di dalam acara adalah menggunakan sebuah tarian atau yang dikenal dengan istilah "menopeng", untuk menerima hadiah yang diberikan penyelenggara acara atau pesta. Dalam prosesi tarian muncullah sosok bertopeng lain, yaitu "Topeng Ohoksebagai asisten Topeng Buta.

Topeng Ohok di gambarkan memakai pakaian compang-camping yang terbuat dari karung bekas. Ia bertugas sebagai penerima dan membawa hadiah yang diberikan oleh penyelenggara pesta. Jumlah sosok topeng sebenarnya tidak dibatasi.

Kisah Topeng Raja Hantu, Topeng Buta Suku Dayak Kalimantan

Selain fungsinya sebagai pengumpul hadiah, sosok topeng juga dijadikan sebagai alat komunikasi. Jika kerabat si penyelenggara pesta tidak bisa datang, sosok topeng bisa menyediakan beberapa kebutuhan serta hadiah dan mengantarkannya kepada kerabat penyelenggara pesta.

Saat hadiah tersebut sudah diantarkan, penyelenggara pesta tersebut wajib mengganti hadiah tersebut sebanyak 2 kali lipat. Ini adalah bentuk konsekuensi dan penghargaan untuk selalu menjaga keutuhan persaudaraan dan tali silaturahmi masyarakat Dayak.